14 Januari 2020

Realita Hamil Duluan dari Dua Garis Biru



Akhir 2019, kurang piknik dan hidup cuma kerja-pulang-rebahan-kerja-pulang-rebahan akhirnya mengantarkan saya kangen kembali aktif menulis di blog ini. Setelah ngga dapet-dapet ilham untuk kembali menulis tentang apa, karna selepas kuliah jadi monoton sekali hidupnya, well nulis review suka-suka kayanya seru juga nih. Biasanya sih review drama korea ya, cuma beberapa setelah terakhir nonton Hotel Del Luna, belum bisa move on dari dramanya. Akhirnya banting setir di awal 2020 dan memutuskan untuk menulis review film Indonesia yang tayang di iflix. Yaaa...walaupun udah telat banget. Sebenernya cuma mau nulis thread aja di twitter (@estettt), tapi kok pengen nulis panjang yah.

Film pertama di iflix yang saya tonton adalah Dua Garis Biru. Setelah pikir-pikir agak lama untuk mulai nonton film ini, karna saya kira filmnya bakal sedih-sedihan karena ulah goblok dua remaja yang MBA. Males juga liat drama pertengkaran anak dan orang tuanya. 

Eits, ternyata ngga gitu dong ceritanya.

Disutradarai oleh Gina S. Noer yang sudah pernah melahirkan karya besar sebelumnya, seperti Habibi Ainun dan Ayat-Ayat Cinta. Cerita ini diawali dengan cinta monyet dua remaja Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Aldi Yunanda), pacaran anak SMA  kelas 3 yang akan menghadapi UN yang kebablasan sampai ke ranah intim di atas ranjang. Akhirnya mimpi buruk itupun datang, Dara tidak kunjung datang bulan dan ternyata positif hamil. Inilah titik balik bagi masa depan mereka berdua, dimana keduanya kemudian dipaksa menjadi dewasa. Gina berhasil membawa film ini begitu cantik. Dia kemas pemikiran remaja pada umumnya dalam menghadapi konflik seperti ini dengan opsi "aborsi" tapi gagal karena Dara, walau ragu, ternyata memilih jalan menjadi seoerang ibu diusia 17 tahun. Dan Bima yang kemudian dengan lugu mengatakan bahwa orang tua mereka pada akhirnya akan memaafkan. Bima ikut siap menjadi seorang ayah.

Penggambaran ketidak adilan masyarakat kita akan perempuan juga diangkat dalam film ini. Dimana Dara, siswi terpintar disekolah kemudian diberhentikan dari sekolah sementara Bima tetap bisa lanjut sekolah sampai lulus. Dengan embel-embel "gimana mau jadi ayah yang baik kalau Bima ngga lanjut sekolah?"

Film ini menyadarkan saya bahwa menjadi orang tua bukan hanya tentang menyekolahkan anak hingga pandai, mengingatkan mereka untuk beribadah, dan menyiapkan masa depan saja. Karna dapat dilihat bahwa Bima dengan lingkungan keluarga religius pun akhirnya kebablasan, dan Dara dengan lingkungan keluarga harmonis dan mapan pun akhirnya dengan polosnya kebablasan juga. Perlu kiranya pembahasan mengenai apa yang akan terjadi ketika laki-laki dan perempuan yang belum cukup umur "make out" dan hamil. Bahwa dari sisi personal perempuan, tubuhnya belum siap dan beresiko meninggal. Dan untuk laki-laki, niat dan tekad bulat mencari nafkah sembari sekolah itu ngga mudah, Nak! Berkeluarga ternyata ngga gampang yah.

Sex education mengenai kehamilan juga disisipkan dengan lembut dalam film ini. Ligwina Hananto mampu berakting sebagai dokter kandungan dengan nada yang renyah menerangkan bagaimana beresikonya kehamilan di usia dini kepada Dara dan Bima. Seakan ingin menerangkan secara keseluruhan bagaimana dampak dari kehamilan dini, baik Bima dan Dara harus menanggung kenyataan bahwa komplikasi kehamilan tersebut menyebabkan operasi pengangkatan rahim. Saya merinding sekali saat Bima sebagai seorang suami harus menandatangani surat persetujuan pengangkatan rahim Dara. Serta adegan saling tangis kedua orang tuanya sambil saling menguatkan. 

Pada akhirnya, ending film ini tidak melulu merugikan pihak perempuan. Dara tetap bisa melanjutkan mimpinya untuk bersekolah ke Korea, sedangkan Bima harus mengurus anaknya di Indonesia. Saya pribadi lega bagaimana Dara bisa tetap melanjutkan mimpi.

Penilaian
8/10

9 Februari 2018

Tersihir Rindu SMA bareng Dilan,1990


Assalammualaikum, jangan? - Dilan, Bandung 1990

Setelah kehabisan tiket karena adek-adek SMA beringas nonton di satu bioskop kecil Jember (iya cuma ada satu di kota ini, NSC Jember), ku jadi pesimis bisa nonton film ini. Sibuk kerja kantor dan menjalani hari dengan nyambi dodolan (iya, punya bisnis yang alhamdulillah laris) bikin nonton ada diprioritas sekian dalam agenda harian. Sampai akhirnya, yaudah deh ngiler aja di twitter liat reaksi orang-orang yang ramai gemes sama Iqbal.

tapi pagi itu Tuhan maha baik,

Ajaibnya senin bukan hari yang hectic lagi. Jam kerja kosong, jualan cuma urus sini-situ kelar. Dan menganggurlah saya di jam 12 siang. Berbekal doa dalam hati biar ngga kehabisan tiket (lagi), saya diantar kekasih ke jantung kota Jember untuk beli tiket Dilan 1990. Dan kebagian, walau bukan di posisi kursi favorit. Akhirnya!!!

Kami nonton dengan khitmat, sesekali laki-laki disamping saya bilang "bagus kok, bagus. Tahun 90-an emang gitu". Kujawab dengan angguk-angguk walau ngga bakal keliatan juga.

Film ini sukses menyabet tiga juta lebih penonton dalam 10 hari penayangan perdananya. Platform instagram dan twitter juga ramai membicarakan bagaimana film ini sukses berbekas dihati masing-masing penontonnya. Wah!! bikin penasaran.
Saya jadi teringat beberapa bulan lalu, di tahun 2017 awal pengumuman para cast Dilan 1990 banyak orang yang meragukan akting si Iqbal dan kawan-kawan. Begitu pula saya, yang kecewa mengetahui pemeran adalah Iqbal, yang jauh dari ekspektasi saya ketika membaca novelnya. Dilan itu harusnya, wajah nakal (badboy), selengekan, tinggi semampai, ganteng, manly dan lain-lain. Ya, Dilan menurut imajinasi saya. Padahal, Dilan adalah milik Milea, bukan saya. Sad :(

Eh jangan sedih, sini dengerin lagu ini dulu


Saat trailer Dilan 1990 keluar, adegan-adegan gombalan bikin geli perut. Tapi kemudian mikir "wah si Iqbal kayanya bagus nih.Kalau dia bagus bisa jadi ini debut film pertamanya yang bakal sukses nganter dia di layar lebar", gitu. Berbekal kontoversi diawal pengumuman para cast, ditambah trailer gombal, dan beberapa acungan jempol. Semakin gregetlah hati ini untuk nonton Dilan 1990.

Filmnya BAGUS. Good job semua cast Dilan 1990 yang sudah unjuk gigi

Tahun 1990-an diusung rapi oleh sutradara, Fajar Bustomi. Ketika nonton film ini, suasana 90-an kerasa banget. Telepon, surat cinta, suasana vintage...ah rindu. Saya pun mengalami suasana naksir tapi malu mau ketemu, akhirnya telpon-telponan rumah. Atau kirim-kiriman surat. Pantaslah banyak yang suka film ini, karena selain bikin nostalgia jaman bahula, pembawaan Iqbal (Dilan) dan Vanesha (Milea) itu bikin gemesh ya. Sikap naksir, penasaran, cemburu ala-ala remaja bikin hati mbak-mbak yang sibuk kerja jadi seger lagi. Iya, usia kami ini sudah jarang digombalin dek. Banyakan kerja, ngobrolin bisnis, tanya kabar anak temen, dan lain-lain. Kami lelah dengan rutinitas tanpa habis, maka hadirnya Dilan dan Milea dalam Dilan 1990 bak es buah disiang hari. Adem, bikin senyum-senyum sendiri.

Saya adalah satu dari sekian yang terhibur dengan film ini. Dilan 1990 adalah cinta ala SMA yang sederhana, gombal, dan lugu. Cinta jaman SMA memang begitu, kita tak perlu alasan bertele-tele tentang kecocokan tanggal lahir, kecocokan ekonomi, kelas sosial, dan lain-lain. Cinta kala itu adalah "wah dia cakep, gebet ah". Cinta yang dibawakan manis oleh kedua pemerannya. Selamat Pidi Baiq yang telah memilih Iqbal secara langsung, insting dan riset yang keren.

Film ini bukannya tanpa celah. Saya kurang terbawa suasana dengan soundtrack yang mengiringi film sepanjang waktu. Ntah karena hanya fokus pada alur cerita, atau memang lagu-lagunya tidak singgah ke hati. Dan jangan berharap plot twisted merana dalam kisah cinta ini, karena sungguh ini cuma cerita cinta SMA biasa. Kalaupun ada konflik ya konflik receh, cemburu remaja, atau bertengkar karena hal sepele (bagi saya, dengan kacamata usia 20-sekian). Selebihnya, Dilan 1990 pantas ditonton oleh siapa saja, terutama tante-tante dan mbak-mbak macam saya, yang sudah mulai kekeringan api cinta. Akhirnya, selamat menonton!!

Penilaian 9/10
(iya 9, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan)


  

2 November 2017

Deretan Kasus Pembunuhan dalam Criminal Minds






Korea sukses memproduksi serial berbau detektif. Lagi-lagi stasiun televisi tvn menyuguhkan serial triller dengan berkiblat pada kesuksesan serial di United State berjudul Criminal Minds. Jeff Davis menghibur penonton dengan rating IMDb sebesar 8,1/10 dan berhasil membawa serial ini sampai pada season ke-11. Rupanya dua sutradara korea, Yang Yun-Ho dan Lee Jung-Hyo, berani unjuk gigi untuk menampilkan serial serupa dengan judul yang sama, Criminal Minds. Drama ini berhasil meraih rating 4% selama penayangannya.

Criminal Minds versi korea bercerita tentang Kim Hyun-Joon (Lee Sung Gi), seorang polisi lapangan penjinak bom yang tidak percaya dengan pekerjaan seorang profiler kasus kriminal karena kematian teman dekatnya saat profiler menangani sebuah kasus pengeboman. Naas, Hyun-Joon malah direkrut untuk bekerja sama dengan para profiler. Hyun-Joon kemudian bertemu dengan seorang anggota polisi, yang juga seorang profiler, bernama Ha Sun-Woo (Moon Chae-Woon) yang selalu tergesa-gesa untuk menyelesaikan kasus. Selanjutnya, kasus demi kasus datang menghampiri tim hingga mimpi buruk sang kapten Kang Ki-Hyung (Song Hyung-Joo) terjadi, serial pembunuh berantai yang selama bertahun-tahun tidak terpecahkan akhirnya muncul kembali dan menghantui orang-orang terdekatnya.

Serial ini dikemas cukup apik dalam menampilkan kasus demi kasus dan penyelesaiannya yang masuk akal. Namun, jika kamu penikmat serial asli besutan Jeff Davis, kamu harus siap kecewa dengan pembawaan aktor-aktris dalam serial versi korea ini. Para aktor tidak terlalu lihai menampilkan kecakapan sebagai seorang profiler. Ditambah lagi, musuh bebuyutan disini pada akhir film digambarkan kalah dengan cara yang ternyata sangat sepele. Sutradara yang awalnya menyelesaikan kasus demi kasus dengan soft dari episode satu kemudian terkesan terburu-buru menyelesaikan ending si musuh bebuyutan. 

Terlepas dari kekecewaan saya sebagai pecandu serial asli Criminal Minds, serial versi korea ini layak dijadikan tontonan untuk pemburu film yang sedang kelelahan menghabiskan drama-drama kisah cinta. Selamat menonton!!

Penilaian 7/10


28 Mei 2017

Lupa Bersyukur

Barangkali sering terjadi. Dimana dalam suatu hari dalam seminggu tiba-tiba mood berantakan. Tidak ada senyum dan musik di pagi hari, tidak ada sapa hangat dengan anggota keluarga, dan tidak ada tawa dalam rumah. Kemudian memutuskan menghabiskan hari dalam bilik kamar yang gelap, tanpa melakukan apa-apa. Hanya coba memaknai hampa.

Saya sering melakukan hal diatas, berkali-kali. Bahkan terkadang menjauhkan diri dari keluarga berminggu-minggu. Alasannya klise: sedang sedih, saya tidak bahagia. Sedih tanpa sebab, oh..tidak bisa dikatakan begini juga karna saya toh sudah sering tahu ujung perkaranya. Hanya diri sendiri suka menepis alasan yang satu ini, yakni kurang bersyukur.

Ketidakbahagiaan yang sering menjatuhkan mental ternyata muncul dari diri sendiri. So pathetic. Kurang besyukur menyebabkan diri saya mengutuk hal-hal yang terjadi belakangan ini, tentang terlambat lulus kuliah, tentang pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang kuliah, tentang hidup yang menurut saya begini-begini saja. Tidak bersyukur menyebabkan saya nelangsa menjalani hari sebagai perempuan pekerja. Padahal, di tempat kerja itu saya banyak sekali dibuat tertawa, banyak sekali bertemu orang baru dan mendapat banyak ilmu baru. Tapi saya tidak juga bersyukur sesampainya dirumah. Kalau saya sendiri malu dengan profesi mulia ini, lantas siapa lagi yang akan bangga?

Ketidakbersyukuran ini kemudian mulai mengutuk diri sendiri karna terlambat lulus, menyesali keputusan yang dibuat dengan sadar oleh saya sendiri. Saya mulai kebiasaan buruk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dan hal ini semakin membuat sedih.

Tidak bersyukur menjadikan saya pribadi yang mengeluh sepanjang hari. Selalu melongok keatas, lupa daratan. Padahal kalau dipikir-pikir, berapa banyak orang yang berdoa agar diberi posisi seperti yang sudah saya pijak hari ini. Berapa banyak orang yang menangis ingin melanjutkan kuliah lagi. Dan berapa orang yang harus kerja lembur untuk mendapat uang yang tak seberapa. Jadi, sampai kapan akan terus bertengkar dengan diri sendiri?

27 Mei 2017

Tunnel: Detektif Penjelajah Waktu



Setelah berlarut-larut lelah menonton drama dengan alur cerita detektif, saya kembali menonton drama keluaran bulan Maret 2017 ini. Di produseri oleh Shin Yong-Whee dan Nam Ki-Hoon, yang beberapa waktu lalu sempat dituding bahwa drama besutannya menjiplak drama sebelumnya berjudul "Signal" yang kebetulan bertema sama. Drama yang dibintangi deretan aktor ternama seperti Choi Jin-Hyuk, Yoon Hyun-Min, dan Lee Yoo-Young terdiri dari 16 episode. Tunnel mampu meraih rating 8,6/10 di IMDb. Rating yang cukup tinggi ini kembali mengusung tema time slip atau perjalanan waktu yang sedang marak menjadi tema drama belakangan ini. 

Seperti yang sudah saya tuliskan diatas, drama ini berlatar sebuah kota di Korea Selatan pada tahun 1980-an yang sedang dilanda ketakutan akibat pembunuhan berantai yang menyerang wanita muda memakai rok. Park Kwang-Ho, detektif cekatan dan cerdas yang bertugas di kantor polisi Hwayang dikenal gigih menangkap orang-orang jahat. Hingga suatu hari Park Kwang-Ho tanpa sengaja bertemu dengan si pembunuh dan harus melakukan pengejaran sendirian di sebuah terowongan desa. Hingga akhirnya dia keluar terowongan dan mendapati dirinya telah berada di tahun 2017, ya dia terlempar di masa 30 tahun mendatang. Kantor kepolisian Hwayang telah canggih, di setiap meja terdapat komputer, pengidentifikasian korban memakai sampel DNA, dan berkomunikasi tidak sulit lagi berkat adanya smartphone. dengan kondisi serba mengagetkan, detektif Park Kwang-Ho menyesuaikan diri dengan memakai identitas orang lain. Dia tetap bertekat untuk menangkap si pembunuh berantai pada tahun 1980. Dibantu oleh tim barunya di tahun 2017, detektif Park Kwang-Ho dibuat kesal karena harus berurusan dengan partner anti sosial bernama Kim Sun-Jae dan seorang profesor "profiler pembunuh" individualis yang keras kepala bernama Shin Jae-Yi.

Drama ini mengaduk-aduk isi kepala penonton, karena alurnya yang dibuat tak terduga dan bikin penonton terheran-heran. Tontonan yang renyah untuk remaja dan dewasa yang jenuh dengan adegan detektif-detektif yang memburu penjahat sadis. Berbeda dengan drama sebelumnya, Voice, drama ini tidak menampilkan adegan pembunuhan secara vulgar. Tunnel mengedepankan proses pengidentifikasian dalam mencari seorang tersangka dengan cara yang renyah dan mudah diikuti. Akting yang begitu meyakinkan diantara tiga tokoh kunci dalam drama ini patut diacungi jempol. Akting ketiga aktor kunci dalam drama ini berhasil membawakan karakter penokohan dari drama, sehingga sepanjang drama hampir tidak dijumpai adegan awkward gagal akting dari para aktornya. Sayangnya di sutradara seperti kelupaan dalam pembuatan drama ini, dimana ada adegan bahwa Park Kwang-Ho tanpa sengaja dapat kembali ke masa lalu dan ternyata dia telah memakan waktu 5 bulan menghilang. Dan ketika pada esok harinya dia tanpa sengaja pula kembali ke masa depan, ternyata dia hanya menghilang beberapa hari saja. Satu lagi adegan janggal dalam film ini, yakni ketika profesor Jae Yi datang ke TKP pembunuhan di tempat peristirahatan disebuah gunung yang terisolasi akibat badai dan jembatan satu-satunya tidak dapat dilalui. Dia berhasil menerobos tanpa ada kotoran sedikitpun di baju dan sepatunya, padahal dia berjalan kaki.

Terlepas dari pro-kontra pejiplakan oleh produsen, saya disini belum dapat memberikan pedapat karena belum menonton drama Signal (postingan ini akan di update secepatnya, saat saya telah menonton keseluruhan Signal). Tunnel pantas dijadikan tontonan untuk siapa saja yang merindukan film-film seperti Criminals Mind dan Detektif Conan yang menyuguhkan kelihaian analisis pelaku kejahatan. Tunnel mengingatkan kita tentang bagaimana obsesi menemukan tujuan, menepati janji untuk menangkap pelaku kejahatan untuk menghormati para korban, dan bagaimana beratnya seorang laki-laki menjadi seorang ayah dan suami di dua tempat yang berbeda.

Penilaian 9/10

4 Mei 2017

Strong Woman Do Bong Soon, Cinta dari Mata




Selepas serial Goblin dan The Legend of Blue Sea tamat, saya sedikit malas untuk mengikuti serial-serial baru di Korea. Ya, move on itu sulit. Beberapa kali saya lihat teaser dari serial-serial baru, namun tidak ada yang membuat saya tertarik. Sampai pada suatu waktu, timeline twitter saya bersliweran orang-orang yang membincangkan serial Strong Woman Do Bong Soon. Saat itu, serial ini telah memasuki minggu-minggu terakhir. Karena intens-nya twit-twit mereka, muncullah rasa penasaran saya. Dimulailah menonton cuplikan pendek serial ini di twitter -dan wah sepertinya lucu. Sudah lama tidak merasakan romantisme malu-malu ala asia. Dimulailah malam-malam begadang menamatkan serial ini. Dan drama ini menyenangkan.

Dimulai dari pertemuan aksi Do Bong Soon -yang diperankan oleh Park Bo Young- seorang perempuan imut dengan kekuatan super yang sanggup mengangkat dan menghajar sekelompok gangster dengan tangan mungilnya, dan Ahn Min Hyuk -diperakan oleh Park Hyungsik- yang tertegun saat  melihat aksi Bong Soon secara diam-diam. Keduanya kemudian dipertemukan kembali di sebuah perusahaan bernama Ainsoft -perusahaan game di korea yang ternyata presiden direkturnya adalah Ahn Min Hyuk. Saat itu Ahn Min Hyuk membutuhkan seorang pengawal karena dia saat itu sedang dibuntuti dan diisengi oleh orang asing, sehingga dia merasa perlu untuk mendapatkan perlindungan dari seorang pengawal. Bong Soon dipilih karena dia memiliki kekuatan maha super yang pastinya akan membuat penguntit Min Hyuk K.O. jika bertemu dengan Bong Soon. Tapi bukannya melindungi si presidr Ainsoft, Bong Soon dan Min Hyuk malah terlibat cinta lokasi di kantornya. Alur yang biasa sekali bukan? tapi satu lagi, serial ini masih dibumbui dengan adegan pembunuhan seorang penculik misterius di daerah rumah Bong Soon. Penculiknya psikopat itu terus saja membuat resah penduduk sekitar. Sampai akhirnya si penculik bersinggungan dengan urusan si Bong Soon, jadi bagaimana kelanjutanyya? Yuk di tonton sendiri.

Satu hal yang saya suka dari serial ini adalah chemistry antara Hyungsik dan Bo Young yang membuat saya berkali-kali cekikikan dan ikut deg-degan dibuatnya. Berkali-kali saya teriak -dalam hati- "woy ini beneran mereka ngga kencan ya?" sangking gregetnya cara pandang si Hyungsik ke Bo Young. Serial ini mengembalikan kesegaran romansa ala asia yang memakan banyak waktu dan malu-malu, yang sangat berbeda dengan serial-serial hollywood yang cenderung memaknai kasih sayang dengan cepat dan agresif. Karena keasikan dengan romansa mereka yang kelihatan riil, jadilah saya tidak begitu tertarik dengan adegan si penculik. Saya tidak begitu mempedulikan ke hadiran tokoh antagonis dalam serial ini, yang penting gemas melihat dua sejoli dalam cerita ini. 
Selamat menonton!


Penilaian: 7/10

28 Februari 2017

Musim Kenangan

Image result for rainy




"aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember" -Efek Rumah Kaca-

Ini bukan lagi bulan desember yang penuh dengan tanah basah, ini adalah februari. Tepatnya akhir februari.

Hujan. 
Tembok pasrah saja terkena hujan seharian,
Taman basah,
Tanah-tanah penuh kubangan,

Hujan, jalanan licin, dan orang-orang berlarian.

Hujan.
Aku disini seharian,
Kalau tak rindu, aku hanyut dalam musim kenangan.

13 Februari 2017

Bersama



Lucu sekali. Sepuluh menit lamanya aku kehilangan kata-kata pada layar putih didepanku. Biasanya tidak begini. Bukannya sombong, aku memang cukup lancar memproduksi kata menjadi sekedar enak dibaca. Mestinya kau tau. Bahkan kau sering menggodaku. Lucu sekali, aku bahkan kehilangan kata-kata untuk sekedar menggambarkanmu, dengan manis. 

Mestinya ini akan menjadi surat cinta keenam yang manis, pada bulan perayaan kasih sayang seluruh umat. Tapi otakku beku, jadi biarkan aku hanya menyapamu.

Hei, jadi bagaimana rasanya dicintai aku?
Tak terhitung banyaknya penasaran dipikiranku. Nyamankah? mengganggukah? terlalu cerewetkah? mengekahkah?Aku tak pernah tau, bahkan ditahun keempat kita bersama. Aku tak tau, maka akan ku ceritakan bagian perjalananku saja. Aku gemar melamun, dalam sore yang tak berkesibukan, dan tentu saja ada kamu dalam lamunanku disana. Pada waktu yang dengan angkuh cepat berlalu, empat tahun bukan waktu yang lama, pun sebentar. Kamu adalah cinta pertama yang membebaskanku melakukan apa saja, apa-apa yang membuatku baik dan tumbuh. Kamu adalah orang pertama yang keberadaannya ingin kulibatkan dalam semua keputusan besar dalam hidupku. Dicintai kamu adalah definisi bahagia yang sederhana. 

Bagaimana aku bisa jatuh sedalam ini? padahal, kamu adalah laki-laki dengan kadar keromantisan yang hampir nol besar. Aku bahkan tidak pernah mendapatkan hadiah, bunga, cokelat, apalagi boneka dari empat tahun bersama.  Mencintai kamu juga tidak mudah, diusiaku yang baru awal dua puluh tahunan, aku bahkan harus kehilangan "malam minggu" dan moment romantis lainnya. Kamu bahkan jarang menghampiriku kerumah, katamu jauh.Kau tau, logikaku maklum. Apakah aku terlalu cinta? bukan. Karna, kata Zarry, bukan cinta namanya kalau terlalu. Mencintai kamu adalah hal yang susah, menurut mereka. Tapi aku suka. Ternyata, jatuh cinta adalah toleransi-toleransi atas banyak hal, ya. 

Kamu adalah cinta yang membantuku berkembang. Aku berterima kasih untuk itu. Kalaulah suatu hari aku akan jatuh cinta lagi, aku akan memilih berhenti di hari ini. Bagaimana bisa aku mencintai orang lain setelah kamu? 
Aku masih sangat menyayangimu, Mas.

9 Februari 2017

Mama

Hari kedua dalam #PosCintaTribu7e ini aku kehabisan ide untuk siapa kutujukan surat ini. Setelah seharian menjaga adik keduaku, yang baru berusia dua tahun, aku kelelehan.

Ah benar saja, ibuku. Sosok yang sore ini sedang sibuk merangkai bunga dari bungkus buah pir. Sosok 44 tahun yang biasa ku panggil dengan sebutan "mah". Umur dan jarak ternyata adalah berandal cilik diantara kita. Bertambahnya umurku dan umurmu berhasil menciptakan jengkal dengan sebutan kesibukan yang juntrungnya membuat kita jarang sekali berbicara, berdua. Jauh dari ingatanku saat dulu, seumur sd-smp, dimana aku akan dengan detail menceritakan semua petualanganku seharian. Umurku yang menua menenggelamkanku dalam kesibukan-kesibukan ditempat kuliah, ditempat kerja, pun ditempat kongkow yang tak mungkin ku tolak karna aku butuh melepas penat dengan yang sebaya.
Jarak memisahkan kita dari yang tadinya seatap, untuk kemudian aku harus berkendara hanya untuk menengok apakah engkau baik-baik saja. Kau tau, berapa tetes air mata yang aku habiskan bermalam-malam ditempat baru karna aku kehilangan kenyamananmu? Aku bahkan tidak dapat terlelap di malam hari karna merindukanmu, merindukan rumah. Setelah meninggalkan rumah, barulah aku tau, bahwa hidangan sarapan yang telah kau siapkan setiap jam enam pagi adalah kenikmatan. Sehingga aku tak perlu susah-susah memasak sembari bergegas menjalani hari.
Kau tau, aku adalah perempuan pertama yang menyayangimu di barisan terdepan walau kadang aku tak datang ke rumah saat kau meneleponku untuk memintaku datang. Aku adalah perempuan yang bersyukur belakangan, karna dilahirkan dari rahim ibu yang dulu mengomeliku karna tak patuh berangkat mengaji, berangkat les menari, berangkat les berenang, belajar ini-itu. Belakangan aku bersyukur memiliki banyak bekal yang ternyata hari ini sangat berguna.
Aku bersyukur, kau tau.
Jadi berhentilah menangis ditengah malam, aku baik-baik saja. Sungguh baik-baik saja.
Love you, mah.

8 Februari 2017

Candu yang Membuatku Tumbuh

Empat tahun ini, duniaku berkutat pada kamu-kamu-kamu dan kamu,
Kamu adalah cinta baik yang membuatku tumbuh,
Menghabiskan waktu berjam-jam, seringnya seharian, adalah hal yang selalu ku nikmati keberadaannya. 

Seperti cinta sejati, aku selalu menyisipkan janji bahwa akan menjagamu seumur hidupmu.
Kau tau, apa yang paling membuatku sedih belakangan? Aku menyadari, kebersamaan kita barangkali akan hilang dua atau tiga tahun kemudian. Melepaskanmu takkan pernah mudah. Bagiku, kamu adalah hal pertama yang ku perjuangkan dengan keringat dan upayaku sendiri? Aku tidak akan melupakanmu, kau tau. Aku bukan perempuan macam itu. Aku adalah perempuan yang susah move on, kau pun tau itu. Tapi seperti katamu, sesakit apapun kehilangan, pada akhirnya kita akan belajar melepaskan. Aku tau perkataanmu hanyalah kalimat penghibur. Aku tidak tau, aku bahkan tidak ingin membayangkan melepaskanmu. Terlalu banyak kenangan, aku hanya ingin mengekalkan.

Semoga kamu tau,
Bagiku, kamu candu yang membuatku tumbuh.
Aku menyayangimu, handphone ku. 


5 Desember 2016

Jealousy Incarnate Maha Membolak Balikkan Emosi




Ada beberapa hal membosankan dalam konflik beberapa drama korea bagi saya: perebutan posisi perusahaan. Begitu sebuah drama memiliki tema semacam ini, sebagian besar saya tonton dengan nyambi pekerjaan lain di rumah. Atau parahnya, saya lewati saja. Saya tidak peduli...ya karena endingnya yang terbaca. Jadi,ketika saya mendapati sebuah drama dengan tema konflik selain itu, foilaa..saya akan sabar menonton tiap detik filmnya. Jealousy Incarnate berhasil menyihir saya dari episode ke-1 hingga episode terakhirnya yang ke-24. 
**
Rilis pada bulan Agustus 2016 lalu, kisah ini diawali dengan cinta sepihak yang tumbuh selama tiga tahun di dunia broadcasting. Gong Hyo-jin sang ratu drama romansa-komedi ini berperan sebagai Pyo Na-ri, wanita lugu pekerja keras yang berbakat sebagai penyiar cuaca dalam perusahaannya. Jo Jung-suk berperan sebagai Lee Hwa-shin seorang reporter cerdas, profesional, arogan, gila kerja, dan tampan. Takdir mempertemukan mereka kembali ketika secara kebetulan Lee Hwa-sin memeriksakan kondisi dadanya setelah mengalami kecelakaan kecil. Tak disangka-sangka, dokter memvonis dirinya mengidap kanker payudara, seperti prediksi Pyo Na-ri yang begitu berambisi memegang dada sebelah kirinya. Pyo Na-ri dan Lee Hwa-sin kembali dipertemukan dalam satu ruang inap karena harus menjalani operasi di hari yang sama. Semenjak itulah Lee Hwa-sin mulai memandang Pyo Na-ri. Namun, semuanya terlambat karena Pyo Na-ri telah membuang cinta bertepuk sebelah tangannya dan menjalin kisah baru bersama sahabat karib Lee Hwa-sin. Naasnya, Lee Hwa-sin bukan hanya mengidap kanker payudara dan dicampakkan wanitanya, dia harus menanggung sesuatu yang lebih besar dari itu. Akankah Lee Hwa-sin sembuh dan mendapatkan kembali Pyo Na-ri?
**

Cinta bertepuk tangan diantara Pyo Na-ri dan Lee Hwa-sin memang tema pasaran yang sering dibandrol sebagai tema drama-drama di Korea. Ada satu hal yang membuat saya dengan sabar menamatkan 24 episode padadramaini, yakni ceritanya yang membolak-balikkan emosi saya sebagai penonton. Konflik Lee Hwa-sin dengan penyakit kanker payudaranyalah yang membuat saya bertahan. Konflik dalam drama ini begitu kental dan keluar dari zona nyaman. Kenapa saya mengatakan demikian?..karena dramaini tidak memusingkan persoalan warisan keluarga, saham, dan perebutan posisi dalam perusahaan. Drama ini menyajikan konflik si aktor utama yang harus sedih sekaligus menanggung malu akan vonis kanker payudara, padahal dia adalah seorang pria. Kemudian dia terkena kualat terhadap Pyo Na-ri karena kemudian dia mulai menyukai Pyo Na-ri secara sepihak, padahal Pyo Na-ri telah berkencan dengan Ko Jung-won (sahabat karib Lee Hwa-sin). Bukan hanya itu, konflik keluarganyapun cukup kental dan menggemaskan. Bukan seperti konflik keluarga dimana si calon ibu mertuaa menolak calon menantunya, drama ini mengemas kisah lucu dan pelik lebih dari itu.
Drama ini cukup panjang tapi tidak membuat saya bosan ditengah jalan. Konflik diantara tokoh pendukungpun tak kalah menarik, saya terpingkal-pingkal oleh kehadiran kedua kakak ipar Lee Hwa-sin yang berkompetisi untuk dianggap layak menjadi seorang ibu dan sama-sama mencintai seorang pria yang ternyata aseksual. Saya berkali-kali mengubah pikiran mengenai siapa yang seharusnya cocok menjadi seorang ibu sejati. Alur cerita ditata apik dan tidak tergesa-gesa yang mampu membawanya pada rating 8,3% (peringkat 15 penayangan nasional berdasarkan ABG Nielsen).  Sedikit cela dalam drama ini dimana pada akhir episode saya harus menelan kecewa karena sang sutradara tergesa-gesa menghabisi film ini. Bukan sebuah closing yang baik. Namun apalah arti sebuah hasil akhir dibandingkan proses menguras hati yang apik sedari awal. Selamat menonton:)

Penilaian: 8/10

21 November 2016

L♡DK, Ketika Naksir Tetangga Sendiri

Related image
pict: google


Kali ini film romantis asal negara sakura yang saya jajal tamatkan minggu siang kemarin. L♡DK yang berasal dari singkatan Living Dining Kitchen dimana artinya satu ruangan multifungsi yang terdiri dari tempat tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan dapur. Seperti judulnya setting film ini awalnya banyak dilakukan diruangan sederhana tersebut.  L♡DK sendiri merupakan adaptasi dari manga dengan judul yang sama, dirilis sebagai sebuah film berdurasi 2 jam sebelas menit (saya nonton via youtube) pada April 2014 silam.
Film ini menceritakan nasib buruk yang menimpa Aoi Nishimori (tokoh utama wanita) yang ingin memberikan pelajaran kepada laki-laki populer di sekolahnya yang bernama Shuusei Kugayama (tokoh utama pria) atas kelakuan tidak sopan Shuusei dalam menolak cinta Moe, sahabat Aoi. Gertakan Aoi menjadi mimpi buruk karena tanpa sengaja Aoi menyebabkan Shuusei cedera sehingga dirinya terpaksa menjadi jongos sementara Shuusei. Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula, si Shuusei yang jahil menggoda Aoi dikamarnya menyebabkan Aoi melakukan hal bodoh sehingga kamar tersebut rusak dan harus diperbaiki selama satu bulan. Shuusei yang tidak ingin kembali ke rumah orang tuanya kemudian memutuskan untuk tinggal dikamar Aoi yang merupakan penyewa kamar lain dirumah tersebut. Cerita romantispun dimulai..sampai pada akhirnya kedua pelajar ini sama-sama kepincut. Namun sayangnya cerita cinta memang tak pernah seru tanpa kehadiran orang ketiga, pun film ini.
**
Kocak dan manis adalah dua kata yang mampu menggambarkan seluruh cerita dalam  LDK. Kocak karena tokoh utama wanita sering gegabah dan bikin malu saat Shuusei mulai menggodanya, Manis karena banyak adegan sederhana yang romantis, dan saya rasa makna adegan ini hanya dapat ditafriskan oleh kaum hawa saja. Cerita komedi-romansa ini tidak banyak menguras emosi karena konflik dengan tokoh pengganggunya tidak begitu kental, sehingga cocok ditonton bagi kalian yang lelah menyandang baper dalam alur cerita sebuah film. 
Dan satu lagi yang menurut saya relevan menggambarkan cerita ini, yakni cerita romansa tak melulu soal ciuman mesra di ranjang saat ada kesempatan, walaupun di ending film ada scene kissing di tengah jembatan. Romansa dalam film ini disalurkan lewat perhatian dan keadaan selalu ada saat dibutuhkan, dan ternyata magis membawa saya tersenyum. Sederhana memang, sesederhana ingin melihat dia tersenyum. Selamat menonton :)

Penilaian: 6/10

Tresno Jalaran Soko Kulino dalam "Personal Taste"

Related image
pict: google


Saya senang menonton serial. Bisa dikatakan, saya adalah satu dari banyak orang yang memutuskan untuk menghabiskan malam panjang dengan serial korea dalam genggaman tangan. Ya, saya salah satu penikmat drama korea walaupun sampai saat ini saya tidak tahu-menahu tentang segala aktor dan aktrisnya. Saya hanya perempuan yang terjaga dimalam hari dan...menikmati alur dari serial korea itu sendiri. 
**
Lucu sekali saya baru menuliskan review serial ini enam tahun setelah launching episode pertamanya pada 31 Maret 2010. Serial yang terdiri dari 16 episode ini saya hatamkan dalam dua hari saja. Hal pertama yang terlintas untuk menonton serial ini adalah hadirnya Lee Min Ho sebagai aktor utama. Saya kepincut sejak perannnya dalam Boys Before Flower. Ya dari beberapa aktor korea saya hanya dapat mengenali tiga orang saja, Lee Min Ho; Song Joong Ki; Lee Kwang So. Bagi saya, Lee Min Ho berperan sebagai Jeon Jin Ho sukses besar memerankan pria gedongan yang sayang ibu dalam serial ini. Dia, seperti biasanya, berakting sebagai pria cool alih-alih sebagai pria dewasa (saya googling bahwa dalam novelnya si Jin Ho adalah sosok pria dewasa). Sedangkan Son Ye Jin yang berperan sebagai Park Kae In mampu membawakan peran wanita ceroboh baik hati yang patah hati.
Personal Taste diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Sayangnya saya tidak bisa membandingkan antara serial dan novelnya karena memang sampai saat ini belum membaca novelnya. Dari segi rating serialnya ternyata cukup tinggi, mampu mencapai 7,7 di IMDb. Film ini, seperti kebanyakan serial korea, bercerita tentang cinta segiempat yang melelahkan. Saya sudah bisa menebak-nebak kisah cinta antar aktor dan aktrisnya di episode ketiga.
Yang menyenangkan dalam film ini adalah scene memasak, hidangan makan, dan sedikit perkenalan maskot wisata (Jeju Island). Saya senang sekali menonton adegan memasak dan hidangan makan dari negara-negara Asia. Satu lagi, syukurlah film ini tidak banyak menampilkan adegan gontok-gontokan merebutkan saham dan kedudukan perusahaan. Saya pribadi sangat malas mengikuti serial perebutan kekuasaan perusahaan karena bikin emosi.
**
Cerita diawali dengan patah hatinya Kae In, si gadis lugu-ceroboh-dan baik hati, yang ditinggalkan kekasihnya. Tak tanggung-tanggung, mantan kekasihnya itu ternyata menikahi sahabat Kae In yang telah mengenalnya selama 10 tahun. Pertemuannya dengan Jin Ho, si arsitek profesional, berawal dari hutang-piutang diantara keduanya, Jin Ho saat itu berkepentingan untuk mencari inspirasi dari rumah tradisional (sanggojae) rancangan ayah Kae In yang merupakan arsitek ternama. Jin Ho berhasil menyewa salah satu kamar dalam rumah Kae In berbekal identitas dirinya adalah seorang Gay. 
Cerita ini benar-benar seperti kata pepatah jawa, bahwa cinta itu jalaran soko kulino (cinta karena terbiasa bersama). Kae In yang ramah, ceroboh dan tulus pada akhirnya membuat Jin Ho jatuh cinta. Hal ini disadari saat Kae In meminta Jin Ho mengajarinya menjadi seorang wanita tulen untuk membalaskan sakit hati kepada mantan kekasihnya. Alih-alih belajar, mereka malah semakin saling mencintai.
**
Walaupun kebanyakan serial korea mengisahkan tema cinta yang sama, saya tidak pernah bosan menonton lagi dan lagi. Cerita cinta Asia adalah hal yang unik, selalu menampilkan proses yang rumit dan lucu. Begitu pula serial ini, saya terbahak-bahak di tengah malam pun sedih saat konflik mencapai klimaks. Serial ini layak ditonton bagi kalian yang lelah dengan serial korea yang menceritakan kehidupan pertengkaran antar keluarga dalam memperebutkan posisi dalam perusahaan. Selamat menonton :)

“Love does not ask you to discard your pride, it’s about protecting a person. Don’t do this in the future. Don’t believe people so easily. Don’t fall in love so easily. Don’t forgive easily either. Please… become stronger.” – Jin Ho

Penilaian: 7/10

27 September 2016

Kesiapan Saja Tidak Cukup

Ternyata cinta saja tidak cukup membawa saya ke pelaminan. Diusia yang baru lepas dari masa mehek-mehek baper cinta monyet menengah atas, saya sudah memikirkan pernikahan. Saat mulai mengenal cinta saya dibangku kuliah tepatnya. Saat itu saya tau, lelaki yang saat sakit manjanya minta ampun ini adalah sosok pekerja keras, dikaruniai kepala yang cemerlang, dan entah bagaimana caranya dapat membawa saya tumbuh dalam dekapannya. Maka sudah pasti,saya akan bilang iya saat dia dan keluarganya masuk pelataran rumah saya.

Pernikahan adalah hal manis yang sering membuat saya baper tengah malam, sembari melihat postingan beberapa kawan telah mulus mangkat ke pelaminan. Betapa saya, demi tuhan, juga ingin anggun dibalut kebaya ala jogja puteri berwarna putih tulang, dan paes ageng menghias dahi. Duduk bangga bersandingan dengan lelaki yang sampai saat ini masih sangat saya syukuri kehadirannya. Secepatnya!

Namun, kembali lagi. Ternyata cinta saja tidak cukup. Dan pernikahan bukan hanya tentang keinginan selalu bersama dalam satu atap saja. Ia butuh proses dan kesiapan. Kesiapan untuk ikhlas kehilangan kebabasan bertemu kawan, kebebasan membeli pakaian kesukaan, dan kebebasan untuk pergi kemana saja. Apalagi untuk kami berdua, yang tidak dibesarkan dalam ekonomi keluarga serba ada. Kami sepakat untuk memapankan diri masing-masing, dan tidak ingin merepotkan kedua orang tua perihal pernikahan, yang memang tidak murah, dan kehidupan setelah berumah tangga. Hal terbaik yang dapat dilakukan sampai hari ini adalah menjaga kepercayaan masing-masing, sambil terus menyisihkan rupiah. Itulah mengapa cinta dan keinginan saja tidak pernah cukup, setidaknya bagi kami.

lalu,untuk sementara waktu. saya hanya akan ikut berbahagia pada teman yang mulai naik pelaminan satu-persatu :) 

25 September 2016

Barangkali sibuk,
Semenjak mata ini terbuka menatap langit-langit rumah
Ponsel di pojok meja masih bisu
Barangkali lembur,
Semenjak lidah kelu ditegukan pertama teh manis pagi itu
Degupan jantung mencolot keluar, ku kira sayup bunyi pesan darimu
dan, ponsel di pojok meja masih bisu
Barangkali aku lelah menunggu,
Oh hari mulai malam, dan sendu mulai mengutuk kalbu.
Ponsel di pojok meja masih juga bisu.

Aku kira aku bisa mengatasinya,
Dan aku rindu, tapi kamu dimana?

23 September 2016

Ya, Begini Saja

Banyak hal yang berubah, perubahan disengaja tentunya, semenjak memasuki usia kepala dua. Tepatnya sejak menginjak usia 21 tahun. Hidup lebih banyak perkara.."yasudahlah" ketimbang makan hati setiap saat. Mengurangi beban pikiran dengan lebih banyak merelakan. Hidup bukan lagi perkara siapa juara dan siapa si pecundang. Bukan lagi.
Saya mulai mengurai beban yang terpikul entah sejak usia berapa. Menimbang dan menyeleksi mana si prioritas dan mana si sampingan. Hidup bukan lagi perkara cinta menggebu dalam kencan malam minggu. Atau, cinta adalah ketika kamu tau siapa lawan bicara akrab kekasihmu. Cinta bukan lagi cemburu buta kepada setiap kontak lawan jenis di handphone-nya. Di umur dua puluhan ini, cinta ya.. begini saja. Menghabiskan waktu di tempat kerja atau rumah masing-masing, sambil sesekali bertukar sticker line dan menanyakan kabar. Lalu tertidur hingga denting ritme kerja dimulai. Yang terpenting adalah saya dan kamu, saat ini mempersiapkan sepetak hari tua bersama.
Kemudian, bahagia bukan lagi dihabiskan dengan berjam-jam karaoke, atau obrolan penuh gosip di meja cafe. Atau, pergi ke foto studio,lengkap dengan dresscode dan jadwal main bersama. Bahagia menjadi sangat sederhana, menyapa tetangga sepanjang gang misalnya. Atau, memasuki lingkungan baru, berkenalan dengan orang-orang yang baru. Atau santai saja di rumah, seharian.
Lalu, memaafkan. Di usia saat ini, saya menjadi seorang pemaaf. Terutama untuk diri saya sendiri. Saya banyak memaafkan diri sendiri untuk hal-hal yang tidak mengenakkan hati. Tentang pilihan yang salah, tentang takdir Tuhan yang ternyata membingungkan hati saya, tentang salah pilih dosen pembimbing, tentang sangkalan yang tidak mampu saya ucapkan, tentang semua hal yang menurut saya tidak adil tentunya bagi saya. Saya mulai memaafkan diri sendiri, untuk hal-hal yang tidak saya sukai tapi harus saya jalani.
Dua puluhan ya..begini saja. 

14 September 2016

Menangislah

Menangislah untuk kesempatan-kesempatan yang kau lewatkan
Untuk beberapa pilihan besar yang keliru
Untuk runtukan kepada dirimu sendiri
Untuk orang-orang terkasih yang meninggalkanmu
Untuk teman yang hanya memanfaatkanmu
Untuk pilu yang susah payah kau sembunyikan dibalik sungginganmu itu
Untuk pura-pura tegar yang ternyata melelahkan
Untuk marahmu yang tertahan di tenggorokan
Untuk hidup yang menurutmu tak adil
Untuk semua hal yang menyakiti dirimu

Menangislah..
Lalu, lanjutkan kembali hidupmu. Sebab, beberapa masalah memang tak butuh penyelesaian. Ia hanya perlu pelampiasan. Beberapa masalah tak butuh teman bicara, ia hanya butuh pilu semalam.


13 September 2016

Siapa Kamu

Untuk hal-hal yang menyakiti hati, saya memilih untuk menutup mata. Saya terus menutup telinga, membungkam mulut, dan terus memadamkan indera. Untuk hal-hal yang menyakiti hati, saya memilih melangkah mundur, bahkan berlari menjauh. Untuk hal-hal yang berpotensi menyakiti diri saya sendiri, saya memilih menjadi penyendiri.
Karna, hati saya telah banyak terluka karna perentilan-perentilan di beberapa tahun belakangan ini. Dan saya mulai kelelahan mengobati perih dimalam-malam dingin itu. Lantas, siapa kamu yang tiba-tiba datang menawarkan bahu sekaligus menyakiti hati saya?

30 Agustus 2016

Kadang

Kadang kau memang harus berjalan sendiri
Tanpa tangan hangat dijemarimu
Tanpa bintang di langitmu
Tanpa kita

6 April 2015

Jumpa Pertama

Pict: https://c2.staticflickr.com/6/5148/5858957965_8a9449bd0e.jpg

Barangkali inilah hidup. Romantisme dikemas dalam bentuk yang tak terduga. Seperti pertemuan kita, hingga sampainya kita pada titik persinggahan ini.

Pertemuan kita bukan diawali oleh tegur sapa, seperti kebanyakan kisah. Bagaimana tidak, aku masih ingat kebiasaanmu yang suka menyenderkan punggungmu, di atas bedak kayu yang ramai dikerubungi teman sepermainanmu. Jeans komprang, kemeja yang digulung sesiku, kalung etnik dilehermu dan sesekali rambut yang dikuncir, apalagi racauan galak dengan temanmu itu jelas tidak masuk dalam kamus laki-laki baik, versiku saat itu. Tegur sapa tentu saja bukan menjadi suatu pengharapan.

Kira-kira itulah rekaman memoriku tentang perjumpaan pertama kita. Perjumpaan kita barangkali bukan dari uluran tangan perkenalan, yang kemudian menjadikan kita yang lekat untuk saling pandang. Perjumpaan kita bukan dari tarik menarik buku yang sama di ruangan berwarna orange, seperti sebuah kode atas kesenangan kita yang serupa. Perjumpaan kita bukan dari tabrakan di cafe yang mengakibatkan kita saling bertukar nomor lalu terjebak untuk saling mengucapkan "selamat malam".

Perjumpaan pertama kita, dalam ingatanku, mengalir begitu saja.
© SEPATAH KATA
Maira Gall