sajak
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

30 Agustus 2016

Kadang

Kadang kau memang harus berjalan sendiri
Tanpa tangan hangat dijemarimu
Tanpa bintang di langitmu
Tanpa kita

3 April 2014

Terikat

Kamu telah terikat begitu erat, hingga uratmu seakan - akan mau meledak. Desir darah ditubuhmu mulai tersendat - sendat tertatap tali yang semakin erat mengikat. Keringatmu mulai mengucur sebesar biji buah cempedak. Kakimu mulai goyah menahan beratnya tali yang semakin melunjak. Tanganmu mulai lunglai kehabisan daya berkedendak. Lalu kamu jatuh ditumpukan karung bergeletak. Kamu marah, kalah, sekaligus pasrah diikat makin kuat.

Tapi kenapa auramu mengatakan kamu seorang penikmat?

pict: tempo.co

1 April 2014

Cerita Embun Pagi

Pict: gempard.blogspot

Aku hanyalah butiran - butiran embun pagi, Yang Mulia
Waktuku tak sepanjang umur nyamuk malaria
Umurku terbatas pada sahabat bumi, si cuaca misalnya
Aku pun tak punya daya untuk meminta sebuah pendaratan mulus seperti pipi Yoona
Aku hanya butiran embun, aku tahu itu Yang Mulia

Aku hanyalah embun pagi, Manisku
Dari segala cuaca yang ada, aku hanya merasakan pagi, yang angkuh membangunkan sejuta suku
Yang tersenyum memandang kekompakan pagi dan matahari, selalu
Aku hanya butiran embun, aku tahu itu

Aku hanyalah embun pagi, Sayangku
Pagiku tak kunjung siang, sore, atau malam
Mataku terbatas memandang muka - muka bangun tidur
Keinginan terbesarku menyaksikan senja di cakrawala
Tapi, aku hanyalah embun, hariku tak lebih dari lima jam sehari.







27 Januari 2014

Nyimak!



Karena hidup itu nyimak!
Nyimak-pun ada seninya. Segala hal yang ada di tanah, air dan langit ini sama, sejak jaman bahula. Maka, ambillah sudut pandang yang lain. Jadilah kamu orang yang kaya, kaya akan sudut pandang. Dari situ, timbanglah langkah - langkah selanjutnya. Toh sekarang ini sudah bukan jamannya untuk grusah-grusuh.

Setenang itu,
deviantART

© SEPATAH KATA
Maira Gall