19 Juli 2017

Memilah Circle Pertemanan

Beberapa hari yang lalu saya bertandang ke tempat seorang teman dekat. Kebetulan ada kegiatan sosial yang mengharuskan saya menemui dia, teman yang tidak pernah absen beberapa tahun belakangan ini. Saya jadi ingat, sebulan yang lalu dia menghubungi saya. Katanya lagi menangis karena ada masalah dengan kekasihnya, hal biasa toh. Lalu, malam ini saya dan beberapa teman menghiburnya sampai larut.
---------------
Malam itu, ketika saya mengunjunginya, saya menanyakan kabar kekasihnya. Bagaimana perihal acara temu keluarga yang pernah dia gundahkan sebulan lalu sambil menangis dan mata putus asa menghadap langit-langit kamar. 
"minggu depan keluarganya akan datang ke rumah"
"huuaa...jadi, enak banget. Selamat ya"
"tapi ngga usah bilang-bilang yang lain ya", lanjutnya
-------------
Mulut saya terkunci. Bukan, saya tidak sedang sedih atau iri hati. Perasaan yang keluar adalah...ah, ternyata hubungannya berhasil. Yeay, selamat.
Yang tidak habis pikir adalah tentang pilihannya yang tidak menceritakan berita baik ke circle kami. Banyak orang lupa, bahwa pertemanan itu bukan hanya tentang berbagi cerita kesedihan terdalam saja. Atau menghabiskan malam sampai larut bersama untuk melepas stress masing-masing. Pertemanan yang saya yakini adalah menampung apa saja, baik yang sedih dan senang, dan selalu ada. Untuk beberapa orang, mungkin hal ini sepele.
Tapi.
Hei,
Saya jadi merasa konyol berada dalam circle ini. Karena cerita diatas berarti hanya satu dari sekian peristiwa yang kebetulan saya ketahui dan pastinya banyak pula peristiwa yang tidak saya ketahui karena keputusannya dengan teman lainnya untuk "ah, mending tidak usah dicetikanan". Kejadian ini membuat saya berpikir kalau saya tidak mengenal dengan baik circle ini walau telah bersama sekitar lima tahun. Saya tidak marah, saya pun tidak menghakimi bahwa pilihannya salah. Saya hanya kecewa saja.
Jadi, memasuki usia 24 keatas, saya akan memilah mana circle yang akan saya ikuti. Karena berteman bukan hanya tentang nongkrong bareng dan curhat sesenggukan. 
Karena bagi saya, 
Berteman adalah bagaimana kamu nyaman dan mampu berkembang bersama dengan dorongan teman sekitar.  

28 Mei 2017

Lupa Bersyukur

Barangkali sering terjadi. Dimana dalam suatu hari dalam seminggu tiba-tiba mood berantakan. Tidak ada senyum dan musik di pagi hari, tidak ada sapa hangat dengan anggota keluarga, dan tidak ada tawa dalam rumah. Kemudian memutuskan menghabiskan hari dalam bilik kamar yang gelap, tanpa melakukan apa-apa. Hanya coba memaknai hampa.

Saya sering melakukan hal diatas, berkali-kali. Bahkan terkadang menjauhkan diri dari keluarga berminggu-minggu. Alasannya klise: sedang sedih, saya tidak bahagia. Sedih tanpa sebab, oh..tidak bisa dikatakan begini juga karna saya toh sudah sering tahu ujung perkaranya. Hanya diri sendiri suka menepis alasan yang satu ini, yakni kurang bersyukur.

Ketidakbahagiaan yang sering menjatuhkan mental ternyata muncul dari diri sendiri. So pathetic. Kurang besyukur menyebabkan diri saya mengutuk hal-hal yang terjadi belakangan ini, tentang terlambat lulus kuliah, tentang pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang kuliah, tentang hidup yang menurut saya begini-begini saja. Tidak bersyukur menyebabkan saya nelangsa menjalani hari sebagai perempuan pekerja. Padahal, di tempat kerja itu saya banyak sekali dibuat tertawa, banyak sekali bertemu orang baru dan mendapat banyak ilmu baru. Tapi saya tidak juga bersyukur sesampainya dirumah. Kalau saya sendiri malu dengan profesi mulia ini, lantas siapa lagi yang akan bangga?

Ketidakbersyukuran ini kemudian mulai mengutuk diri sendiri karna terlambat lulus, menyesali keputusan yang dibuat dengan sadar oleh saya sendiri. Saya mulai kebiasaan buruk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dan hal ini semakin membuat sedih.

Tidak bersyukur menjadikan saya pribadi yang mengeluh sepanjang hari. Selalu melongok keatas, lupa daratan. Padahal kalau dipikir-pikir, berapa banyak orang yang berdoa agar diberi posisi seperti yang sudah saya pijak hari ini. Berapa banyak orang yang menangis ingin melanjutkan kuliah lagi. Dan berapa orang yang harus kerja lembur untuk mendapat uang yang tak seberapa. Jadi, sampai kapan akan terus bertengkar dengan diri sendiri?

27 Mei 2017

Tunnel: Detektif Penjelajah Waktu



Setelah berlarut-larut lelah menonton drama dengan alur cerita detektif, saya kembali menonton drama keluaran bulan Maret 2017 ini. Di produseri oleh Shin Yong-Whee dan Nam Ki-Hoon, yang beberapa waktu lalu sempat dituding bahwa drama besutannya menjiplak drama sebelumnya berjudul "Signal" yang kebetulan bertema sama. Drama yang dibintangi deretan aktor ternama seperti Choi Jin-Hyuk, Yoon Hyun-Min, dan Lee Yoo-Young terdiri dari 16 episode. Tunnel mampu meraih rating 8,6/10 di IMDb. Rating yang cukup tinggi ini kembali mengusung tema time slip atau perjalanan waktu yang sedang marak menjadi tema drama belakangan ini. 

Seperti yang sudah saya tuliskan diatas, drama ini berlatar sebuah kota di Korea Selatan pada tahun 1980-an yang sedang dilanda ketakutan akibat pembunuhan berantai yang menyerang wanita muda memakai rok. Park Kwang-Ho, detektif cekatan dan cerdas yang bertugas di kantor polisi Hwayang dikenal gigih menangkap orang-orang jahat. Hingga suatu hari Park Kwang-Ho tanpa sengaja bertemu dengan si pembunuh dan harus melakukan pengejaran sendirian di sebuah terowongan desa. Hingga akhirnya dia keluar terowongan dan mendapati dirinya telah berada di tahun 2017, ya dia terlempar di masa 30 tahun mendatang. Kantor kepolisian Hwayang telah canggih, di setiap meja terdapat komputer, pengidentifikasian korban memakai sampel DNA, dan berkomunikasi tidak sulit lagi berkat adanya smartphone. dengan kondisi serba mengagetkan, detektif Park Kwang-Ho menyesuaikan diri dengan memakai identitas orang lain. Dia tetap bertekat untuk menangkap si pembunuh berantai pada tahun 1980. Dibantu oleh tim barunya di tahun 2017, detektif Park Kwang-Ho dibuat kesal karena harus berurusan dengan partner anti sosial bernama Kim Sun-Jae dan seorang profesor "profiler pembunuh" individualis yang keras kepala bernama Shin Jae-Yi.

Drama ini mengaduk-aduk isi kepala penonton, karena alurnya yang dibuat tak terduga dan bikin penonton terheran-heran. Tontonan yang renyah untuk remaja dan dewasa yang jenuh dengan adegan detektif-detektif yang memburu penjahat sadis. Berbeda dengan drama sebelumnya, Voice, drama ini tidak menampilkan adegan pembunuhan secara vulgar. Tunnel mengedepankan proses pengidentifikasian dalam mencari seorang tersangka dengan cara yang renyah dan mudah diikuti. Akting yang begitu meyakinkan diantara tiga tokoh kunci dalam drama ini patut diacungi jempol. Akting ketiga aktor kunci dalam drama ini berhasil membawakan karakter penokohan dari drama, sehingga sepanjang drama hampir tidak dijumpai adegan awkward gagal akting dari para aktornya. Sayangnya di sutradara seperti kelupaan dalam pembuatan drama ini, dimana ada adegan bahwa Park Kwang-Ho tanpa sengaja dapat kembali ke masa lalu dan ternyata dia telah memakan waktu 5 bulan menghilang. Dan ketika pada esok harinya dia tanpa sengaja pula kembali ke masa depan, ternyata dia hanya menghilang beberapa hari saja. Satu lagi adegan janggal dalam film ini, yakni ketika profesor Jae Yi datang ke TKP pembunuhan di tempat peristirahatan disebuah gunung yang terisolasi akibat badai dan jembatan satu-satunya tidak dapat dilalui. Dia berhasil menerobos tanpa ada kotoran sedikitpun di baju dan sepatunya, padahal dia berjalan kaki.

Terlepas dari pro-kontra pejiplakan oleh produsen, saya disini belum dapat memberikan pedapat karena belum menonton drama Signal (postingan ini akan di update secepatnya, saat saya telah menonton keseluruhan Signal). Tunnel pantas dijadikan tontonan untuk siapa saja yang merindukan film-film seperti Criminals Mind dan Detektif Conan yang menyuguhkan kelihaian analisis pelaku kejahatan. Tunnel mengingatkan kita tentang bagaimana obsesi menemukan tujuan, menepati janji untuk menangkap pelaku kejahatan untuk menghormati para korban, dan bagaimana beratnya seorang laki-laki menjadi seorang ayah dan suami di dua tempat yang berbeda.

Penilaian 9/10

4 Mei 2017

Strong Woman Do Bong Soon, Cinta dari Mata




Selepas serial Goblin dan The Legend of Blue Sea tamat, saya sedikit malas untuk mengikuti serial-serial baru di Korea. Ya, move on itu sulit. Beberapa kali saya lihat teaser dari serial-serial baru, namun tidak ada yang membuat saya tertarik. Sampai pada suatu waktu, timeline twitter saya bersliweran orang-orang yang membincangkan serial Strong Woman Do Bong Soon. Saat itu, serial ini telah memasuki minggu-minggu terakhir. Karena intens-nya twit-twit mereka, muncullah rasa penasaran saya. Dimulailah menonton cuplikan pendek serial ini di twitter -dan wah sepertinya lucu. Sudah lama tidak merasakan romantisme malu-malu ala asia. Dimulailah malam-malam begadang menamatkan serial ini. Dan drama ini menyenangkan.

Dimulai dari pertemuan aksi Do Bong Soon -yang diperankan oleh Park Bo Young- seorang perempuan imut dengan kekuatan super yang sanggup mengangkat dan menghajar sekelompok gangster dengan tangan mungilnya, dan Ahn Min Hyuk -diperakan oleh Park Hyungsik- yang tertegun saat  melihat aksi Bong Soon secara diam-diam. Keduanya kemudian dipertemukan kembali di sebuah perusahaan bernama Ainsoft -perusahaan game di korea yang ternyata presiden direkturnya adalah Ahn Min Hyuk. Saat itu Ahn Min Hyuk membutuhkan seorang pengawal karena dia saat itu sedang dibuntuti dan diisengi oleh orang asing, sehingga dia merasa perlu untuk mendapatkan perlindungan dari seorang pengawal. Bong Soon dipilih karena dia memiliki kekuatan maha super yang pastinya akan membuat penguntit Min Hyuk K.O. jika bertemu dengan Bong Soon. Tapi bukannya melindungi si presidr Ainsoft, Bong Soon dan Min Hyuk malah terlibat cinta lokasi di kantornya. Alur yang biasa sekali bukan? tapi satu lagi, serial ini masih dibumbui dengan adegan pembunuhan seorang penculik misterius di daerah rumah Bong Soon. Penculiknya psikopat itu terus saja membuat resah penduduk sekitar. Sampai akhirnya si penculik bersinggungan dengan urusan si Bong Soon, jadi bagaimana kelanjutanyya? Yuk di tonton sendiri.

Satu hal yang saya suka dari serial ini adalah chemistry antara Hyungsik dan Bo Young yang membuat saya berkali-kali cekikikan dan ikut deg-degan dibuatnya. Berkali-kali saya teriak -dalam hati- "woy ini beneran mereka ngga kencan ya?" sangking gregetnya cara pandang si Hyungsik ke Bo Young. Serial ini mengembalikan kesegaran romansa ala asia yang memakan banyak waktu dan malu-malu, yang sangat berbeda dengan serial-serial hollywood yang cenderung memaknai kasih sayang dengan cepat dan agresif. Karena keasikan dengan romansa mereka yang kelihatan riil, jadilah saya tidak begitu tertarik dengan adegan si penculik. Saya tidak begitu mempedulikan ke hadiran tokoh antagonis dalam serial ini, yang penting gemas melihat dua sejoli dalam cerita ini. 
Selamat menonton!


Penilaian: 7/10

28 Februari 2017

Musim Kenangan

Image result for rainy




"aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember" -Efek Rumah Kaca-

Ini bukan lagi bulan desember yang penuh dengan tanah basah, ini adalah februari. Tepatnya akhir februari.

Hujan. 
Tembok pasrah saja terkena hujan seharian,
Taman basah,
Tanah-tanah penuh kubangan,

Hujan, jalanan licin, dan orang-orang berlarian.

Hujan.
Aku disini seharian,
Kalau tak rindu, aku hanyut dalam musim kenangan.

© SEPATAH KATA
Maira Gall